berlindung hanya kepada allah

AyatAl-Quran tentang meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah juga demikian melimpah. Dan hanya Allah saja yang dimintai pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (Maryam) berkata, "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau adalah orang yang bertakwa." (18
Artinya"Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha sa, tidak sekutu bagi-Nya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan pada hari tua. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan kubur." 4
Ada sebuah doa yang diajarkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Di dalamnya terkandung permohonan agar Allah melindungi kita dari empat keburukan. Doanya berbunyi sebagai berikut “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”HR Muslim 4899 Setiap muslim tentunya tidak ingin terlibat dengan keempat macam keburukan yang disebutkan di dalam doa ini. Pertama, ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak bermanfaat adalah semua jenis ilmu yang tidak mengantarkan seseorang kepada penambahan iman. Ilmu yang tidak bermanfaat justru merongrong iman seseorang sehingga semakin lama imannya semakin menipis. Sedangkan ilmu bermanfaat ialah ilmu yang membuat seseorang menjadi semakin dekat dengan Allah. Ilmu bermanfaat akan mengantarkan seseorang untuk menjadi ingat akan kehidupan sejati kelak di akhirat. Contohnya ialah para ulul al-bab orang-orang yang berakal yang disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut “…Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” QS Ali Imran ayat 190-192 Ulul al-bab merupakan orang-orang yang menggunakan akal mereka sehingga setelah melakukan pengamatan terhadap alam sambil mengingat Allah, lalu mereka segera teringat akan kehidupan di akhirat. Sehingga mereka segera berdoa “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Inilah gambaran mereka yang cermat dalam memilih ilmu untuk diamalkan. Mereka sibuk dengan ilmu yang bermanfaat. Mereka sangat peduli untuk memastikan bahwa ilmu apapun yang dikejar haruslah mengantarkan mereka menjadi lebih dekat dan tunduk kepada Allah. Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang segera membangkitkan ingatan akan kehidupan akhirat yang hakiki dan abadi. Mereka sangat waspada dan curiga terhadap berbagai ilmu yang potensial mengancam stabilitas iman. Mereka sangat khawatir terhadap berbagai ilmu yang menimbulkan keraguan akan kebenaran ajaran Allah, Din Al-Islam. Mereka waspada menghadapi ilmu yang membuat mereka lebih cinta kepada dunia dan melalaikan mereka akan akhirat. Kedua, hati yang tidak khusyu’. Keburukan berikutnya adalah memiliki hati yang tidak khusyu’. Artinya hati yang tidak tunduk kepada Allah. Hati yang liar dan tidak bersandar kepada Allah dalam menggapai ketenteraman. Padahal ciri orang beriman ialah bila mengingat Allah hati mereka menjadi tenteram. ”yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS Ar-Ra’du ayat 28 Sedemikian pentingnya memiliki hati yang khusyu’ tunduk sehingga Allah sendiri memperingatkan kita agar waspada terhadap kekeringan atau kegersangan hati. Hal ini muncul bila orang beriman terlalu lama mengabaikan ayat-ayat Allah. Mereka sengaja membuat jarak dengan ayat-ayat Allah sehingga dengan berjalannya waktu hati menjadi tidak khusyu’ alias menjadi keras. Satu-satunya solusi ialah kembali menghidupkan ingatan dan perhatian terhadap ayat-ayat Allah. Hidupkan makna ayat-ayat tersebut di dalam kehidupan nyata. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tundukkhusyu’ hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” QS Al-Hadid ayat 16 Ketiga, nafsu yang tidak pernah kenyang. Ini merupakan keburukan berikutnya. Apalagi kita sedang menjalani zaman paling kelam dalam sejarah Islam. Di zaman ini begitu banyak fitnah yang tersebar, sehingga tawaran untuk menuruti hawa-nafsu bermunculan di sekeliling kita. Hampir dalam semua situasi ada peluang untuk menuruti hawa-nafsu. Maka di zaman seperti ini sangat diperlukan pengendalian diri. Sangat diperlukan kemampuan untuk memuaskan nafsu dengan cara yang sesuai syariat dan proporsional. Islam tidak datang untuk membunuh nafsu. Islam datang untuk mengendalikan hawa-nafsu. Sehingga kebutuhan pemuasan nafsu bukan dimatikan melainkan diarahkan agar sesuai dengan aturan syariat Allah. Dan bila hal ini dilakukan maka bukan saja seseorang terbebas dari dosa bahkan ia dapat memperoleh pahala dari Allah atas pemenuhan hawa-nafsu yang sesuai syariat Allah. “Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata”Ya Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda “Bukankah Allah telah menjadikan bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh seseorang kepada kebaikan adalah sedekah, melarangnya dari kemungkaran adalah sedekah dan bersetubuhnya seorang kamu dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya ”Ya Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya, apakah ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab ”Tidakkah kamu tahu, apabila seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang haram, dia berdosa? Demikian pula apabila disalurkannya kepada yang halal, dia mendapat pahala.” HR Muslim 1674 Keempat, doa yang tidak dikabulkan. Ini jelas merupakan suatu keburukan. Bayangkan, seorang muslim berdoa kepada Allah namun tidak dikabulkan. Jelas ini merupakan suatu musibah. Padahal Allah sendiri menjamin bahwa jika seseorang memohon sesuatu kepada Allah, pasti Allah akan kabulkan. Tentu ada syaratnya pertama, memohon hanya kepada Allah, tidak kepada selainNya; kedua, penuhi segenap perintah Allah dan ketiga, beriman dengan sebenarnya kepada Allah SWT. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” QS Al-Baqarah ayat 186
Syeitanjuga sombong, Firman Allah QS 38 (Shaad) ayat :74, artinya " Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir". Firman Allah lainnya dalam QS 38:76, syeitan itu merasa dirinya lebih baik (QS 38 (shaad:76). Syeitan itu mengajak berselisih, mengajak pelit, kikir dan banyak lagi. "Sesungguhnya kita ini harus berserah diri kepada Allah untuk
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaanlah seorang muslim akan dimudahkan dalam setiap urusannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”. QS. At-Talaq 4Jemaah salat Jumat yang senantiasa dirahmati Allah Ta’ ini jagat maya dihebohkan dengan ramainya dunia perdukunan. Sebuah fenomena jamak di negeri Indonesia ini. Sungguh miris, negeri yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini seringkali masih mempercayai dukun, peramal, “orang pintar”, dan lain sebagainya di dalam menyelesaikan dan memecahkan permasalahannya. Meminta perlindungan kepada mereka, mengenakan jimat, dan menggantungkan nasib kepada kejadian serta fenomena yang terjadi baik di langit maupun di Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan hal semacam itu! Beliau adalah hamba yang paling besar rasa butuhnya terhadap Allah Ta’ala, hamba yang paling takut terhadap Rabbnya, hamba yang selalu menggantungkan dirinya dan menyandarkan urusannya hanya kepada Allah Ta’ala satu-satunya. Beliau jauh dari kesyirikan, sama sekali tidak pernah meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala. Isti’adzah meminta perlindungan pada hal-hal yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang harus kita tujukan hanya kepada Allah satu-satunya. Bahkan Isti’adzah merupakan salah satu ibadah yang paling mulia. Allah Ta’ala jadikan ia sebagai salah satu perwujudan dan tolak ukur tauhid uluhiyyah seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia.’” QS. An-Naas 1-3Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ Juga Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaSetelah mengetahui bahwa isti’adzah merupakan salah satu bentuk ibadah, maka kita dilarang untuk memintanya kepada selain Allah Ta’ala, baik itu jin, dukun, “orang pintar”, tukang sihir, ataupun yang semisal dengannya. Kita juga dilarang berlindung dari malapetaka ataupun marabahaya dengan melafalkan jampi-jampi, ucapan yang tidak diketahui maknanya, ataupun bentuk-bentuk kalimat lain yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wahai jemaah sekalian, meminta perlindungan kepada makhluk dalam hal-hal yang di luar batas kemampuan dan kapasitas mereka maka sesungguhnya itu termasuk yang dimuliakan Allah Ta’ yang meminta perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala pada hal-hal yang yang tidak dimampui kecuali oleh Allah Ta’ala, maka sungguh apa yang ia lakukan tersebut hanya akan menambah kesesatan, kesulitan, dan dosa bagi pelakunya. Allah Ta’ala berfirman,وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka jin menjadikan mereka manusia bertambah sesat.” QS. Al-Jinn 6Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qotadah rahimahullah berkata,فَزادُوهُمْ رَهَقاً أَيْ إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً“Fazaaduhum rahaqaa, yaitu manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.”Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ kita benar-benar yakin bahwa Allah Ta’ala adalah Sang Pencipta, Sesembahan kita, dan Tuhan satu-satunya, tentu kita tidak akan pernah ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada selain-Nya di dalam perkara yang tidak ada seorang makhluk pun mampu mengatasinya, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada tempat lain untuk mengadu atas setiap kesulitan yang menimpa kita, kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat bergantung dan berlindung saat datangnya keadaan sulit dan menakutkan, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya terjatuhnya seseorang ke dalam isti’adzah kepada selain Allah Ta’ala merupakan tanda lemahnya keyakinan dan keimanan kita kepada Allah Ta’ yang di antara perkara buruk yang diri kita sangatlah diperintahkan untuk meminta perlindungan darinya adalah bisikan, godaan, dan tipu daya setan beserta bala tentaranya, termasuk di dalamnya adalah para dukun, peramal, dan tukang sihir yang bekerja sama dengan para setan di dalam mengelabui dan menipu ber-isti’adzah dari setan ini bahkan diperintahkan untuk dilakukan di banyak kondisi. Ketika membaca Al-Qur’an, ketika marah, ketika masuk kamar mandi, dan saat mendapati mimpi wahai saudaraku, meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan akan menyelamatkan kita dari tipu daya mereka. Di dalam merealisasikannya akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memerangi mereka dan kesadaran penuh perihal busuknya tipu daya mereka. Kesadaran ini merupakan salah satu karakteristik orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنْ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat berbuat dosa dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” QS. Al-A’raf 201أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا Muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ Juga “Masya Allah” Kapan Diucapkan?Allah Ta’ala telah memerintahkan dan menekankan kita untuk senantiasa ber-isti’adzah dan meminta pertolongan kepada-Nya di banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” QS. Al-A’raf 20Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ“Dan katakanlah, Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung pula kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.’” QS. Al-Mu’minun 97-98Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengajarkan para sahabatnya untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata kepadanya, “Wahai Nabi, ajarkan kepadaku apa yang harus aku lafazkan jika telah masuk waktu pagi atau telah masuk waktu sore.” Maka, Nabi pun menjawab,يَا أَبَا بَكْرٍ! قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرَكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ“Wahai Abu Bakar, ucapkanlah, Ya Allah, Zat Pencipta langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Engkau, Zat yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku berbuat kejelekan pada diriku atau aku mendorongnya kepada seorang muslim.’” HR. Tirmidzi no. 3529Doa meminta perlindungan yang lainnya juga diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada istri tercinta beliau, Ibunda Aisyah radhiyallahu anha,للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ…“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang segera dunia dan yang tertunda akhirat, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang segera dunia dan yang tertunda akhirat, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.” HR. Thabrani, 2 252 dan At-Thayalisi no. 822. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jaami’Jemaah salat Jumat yang semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ untuk selalu membaca Al-Muawwidzatain, surat Al-Falaq dan surat An-Naas, sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada sahabatnya Abdullah bin Khubaib radhiyallahu anhu,قُل قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ“Bacalah Qul huwaAllahu Ahad dan Al-Muawwidzatain Al-Falaq, An-Naas saat masuk waktu sore dan saat masuk waktu pagi, niscaya semua itu akan mencukupkanmu dari segala hal.” HR. Abu Dawud no. 5082Tidak ada satu pun dari kaum muslimin yang tidak butuh kepada 2 surat ini. Keduanya memiliki pengaruh besar untuk menangkal sihir, penyakit ain, dan setiap keburukan yang ada di bumi ini. Kebutuhan manusia untuk selalu ber-isti’adzah, meminta perlindungan dengan kedua surat ini, lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan pokok Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin dari segala macam marabahaya, baik itu yang ditimbulkan oleh setan dan bala tentaranya ataupun yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Semoga kita semua termasuk dari salah satu hamba Allah yang hanya meminta pertolongan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, menjadi hamba Allah Ta’ala yang lisannya senantiasa basah karena berzikir, ber-isti’adzah kepada Allah Ta’ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca JugaManusia Itu Lemah Sedangkan Allah Maha BesarTanda Pengagungan kepada Allah***Penulis Muhammad Idris,
Эσадኝռо еρиза սоሌоռеռοպиШ υтиթαбυ
ካէжθшеηиγθ аժеςጮሷи аնուкοቪυδИγխсаզጏጉиτ ձօν
Αձачоյοл φωρаγըγидЩιδеживуጾе храֆሼጆխ ожоքюμеп
Бодባካагл ирсխςጸшሊощοгиֆяκι եζυч ሹ
Цизትτоቷудр λοтሺչጸАскеքυжυч ኮռ ιтоскሡб
Узиሣቦዟ уֆыኽегыфሩሴ усωհуձኸπу αвለп
Dan aku berlindung pula kepada Engkau, ya Rabbku, dari kedatangan setan-setan itu kepadaku") dalam perkara-perkaraku, karena sesungguhnya mereka datang hanya dengan membawa keburukan belaka.. Tafsir Ibnu Katsir. Firman Allah Swt.: Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan." (Al Mu'minun: 97)
Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama makhluk yang lemah pula, mengapa dia tidak menyandarkan urusannya kepada Allah ta’ala yang maha kuasa ?Bukankah setiap hari, di setiap kali sholat, bahkan dalam setiap raka’at sholat kita selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita… Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” QS. al-Ma’idah 23. Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah ibadah. Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah melakukan kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 256Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupinya…” QS. ath-Thalaq 3. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah. Barangsiapa yang menujukan ibadah ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 260Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain Allah, entah itu jin, penghuni kubur ataupun yang lainnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Janganlah kamu menyeru kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak menjamin manfaat maupun madharat kepadamu, apabila kamu tetap melakukannya niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” QS. Yunus 106. Mendatangkan manfaat dan menolak madharat adalah kekhususan yang dimiliki Allah. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah dan dia meyakini bahwasanya yang dia seru itu menguasai kemanfaatan dan kemadharatan sebagai sekutu bagi Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 104Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Yunus 107. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa menyingkap keburukan/bahaya dan mendatangkan manfaat merupakan kekhususan Allah azza wa jalla. Barangsiapa yang mencari hal itu dari selain Allah sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 105Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Kalau Allah yang menguasai hidup dan mati kita, lalu mengapa kita gantungkan hati kita kepada jin dan benda-benda mati yang tidak menguasai apa-apa?!Penulis Abu Mushlih Ari WahyudiArtikel Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".
\n \nberlindung hanya kepada allah
Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur." ( Lihat HR
Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama makhluk yang lemah pula, mengapa dia tidak menyandarkan urusannya kepada Allah ta’ala yang maha kuasa? Bukankah setiap hari, di setiap kali shalat, bahkan dalam setiap raka’at shalat kita selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita… Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” QS. al-Ma’idah 23. Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah ibadah. Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah melakukan kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 256 Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupinya…” QS. ath-Thalaq 3. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah. Barangsiapa yang menujukan ibadah ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 260 Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain Allah, entah itu jin, penghuni kubur ataupun yang lainnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Janganlah kamu menyeru kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak menjamin manfaat maupun madharat kepadamu, apabila kamu tetap melakukannya niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” QS. Yunus 106. Mendatangkan manfaat dan menolak madharat adalah kekhususan yang dimiliki Allah. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah dan dia meyakini bahwasanya yang dia seru itu menguasai kemanfaatan dan kemadharatan sebagai sekutu bagi Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 104 Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Yunus 107. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa menyingkap keburukan/bahaya dan mendatangkan manfaat merupakan kekhususan Allah azza wa jalla. Barangsiapa yang mencari hal itu dari selain Allah sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 105 Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Kalau Allah yang menguasai hidup dan mati kita, lalu mengapa kita gantungkan hati kita kepada jin dan benda-benda mati yang tidak menguasai apa-apa?! *** Penulis Abu Mushlih Ari Wahyudi Sumber .
Allahta'ala berfirman: "Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.". (QS. Fushilat: 36) "Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya
BERLINDUNG DIRI DARI MAKHLUK HALUSOleh Ustadz Rizal Yuliar Putrananda LcPembaca yang dirahmati Allah Azza wa Jalla , meyakini adanya jin atau setan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang mulia ini. Alam mereka para jin sama sekali berbeda dengan alam manusia meskipun keduanya diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk satu tujuan yaitu beribadah hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirmanوَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِDan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [adz-Dzâriat/5156]Manusia tidak dapat melihat jin atau setan dengan kasat mata. Namun, mereka dapat melihat manusia. Allah Azza wa Jalla berfirmanاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَSesungguhnya dia setan dan anak keturunan dari bangsanya dapat melihat kalian sementara kalian tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sebagai pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.[al-A`râf/727]Setan adalah musuh manusia yang selalu berupaya menjauhkan mereka dari jalan Allah Azza wa Jalla yang lurus. Setan mengajak para pengikutnya untuk menemaninya di Neraka sa`ir. Allah Azza wa Jalla berfirmanاِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗSesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh kalian, sesungguhnya setan-setan itu mengajak para pengikutnya agar menjadi penghuni neraka sa`ir yang menyala-nyala”.[Fâthir/356]Kebiasaan setan adalah mengelabui manusia, menghalangi dari kebaikan dan kebenaran. Dan menggelincirkan manusia dalam kesesatan adalah sumpahnya di hadapan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman tentang ucapan Iblisقَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ – ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَIblis berkata, “Karena Engkau ya Allah telah menghukumku untuk tersesat, maka sungguh aku akan menghalang-halangi manusia dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi menggoda mereka dari hadapan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur taat”.[al-A`râf/716-17]Mereka ada dimana-mana, siap menjadikan manusia sebagai mangsa kesesatannya. Berbagai metode ditempuh agar manusia jauh dari tauhid dan terjebak dalam lumpur kesyirikan atau kubangan dosa kemaksiatan. Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita dari setiap keburukan. Amîn“Tahayul” Menggangu Kenyamanan Hati Mari kita perhatikan komentar-komentar berikut “Hati-hati lho, ini tempat angker, hih…!”, “Awas, jangan-jangan, ada penunggunya..!?“, “Jangan sembarangan ah, aku takut mereka marah…!”, “Kalau mau selamat, berikan dulu sesajian…!”, “Hih…, tempat itu ngeri.!”. Semua ini adalah tebak reka penulis terhadap kalimat-kalimat yang mungkin diucapkan oleh sebagian orang saat berada di tempat-tempat yang dianggap seram. Demikian itu sebagai ungkapan rasa takut dan kekhawatiran mendapat celaka yang terjadi atas diri mereka di tempat tersebut. Bukan rahasia, yang mereka takuti itu adalah para jin atau setan yang dianggap dapat memberikan madharat celaka pada kondisi-kondisi tertentu. Parahnya, setelah ketakutan itu menghantui diri manusia yang lemah tauhid, sering kali mereka berlindung dari celaka dan ketakutan dengan cara-cara yang dapat merusak kesucian tauhid, bahkan memusnahkannya. Mereka menyandarkan diri kepada berbagai bentuk sesajen; sesajian berbungkus mistik kelam untuk meredam ketakutan mereka dan mencari ketenangan. Tanpa mereka sadari, tauhid dalam jiwa mereka rusak, seakan tiada mengenal Allah Azza wa Jalla . Padahal, tak satupun yang berhak diminta perlindungannya selain Allah Azza wa Jalla yang Maha Kuasa. Tiada satu pun yang mampu memberikan perlindungan selain Allah Azza wa Jalla yang Maha Agung lagi Maha segalanya. Satu hal yang dapat melegakan kita bahwa setan, binatang buas, manusia atau siapapun tidaklah dapat mendatangkan manfaat atau menimpakan madharrat melainkan dengan izin Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirmanقُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ەۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّوْرُ ەۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۗ قُلِ اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Katakanlah “Siapakah Rabb langit dan bumi?” katakan, jawabnya “Allah”. Katakanlah, “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung bagimu dari selain Allah, padahal mereka tidak memiliki manfaat dan madharrat bagi diri mereka sendiri?!”… apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah untuk menciptakan seperti ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?!”. Katakanlah “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. [ar-Ra`du/1316]Maka hendaknya fenomena tahayul tak bermutu seperti ini dicermati dengan seksama dan diluruskan. Tujuannya, agar langkah setiap Muslim sesuai dengan pandangan syariat Islam yang benar dan sejalan dengan tauhid yang diserukan oleh Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam dan segenap rasul sebelum beliau, dan agar tauhid ini tetap terjaga kemurniannya serta tidak tercemar dengan hal-hal beraroma syirik yang mendatangkan kebinasaan bagi Tauhid yang Lemah Karena lemahnya benteng tauhid dan dangkalnya ilmu Agama, sebagian kaum Muslimin masih larut dalam tahayul yang diwariskan dari masa ke masa. Akibatnya, bermunculan generasi rapuh tauhid yang mudah takut kepada bangsa jin dan setan, kemudian mencari perlindungan dari selain Allah Azza wa Jalla . Apabila mereka berada di tempat yang dianggap angker, atau melewati tempat berhawa menyeramkan, maka sontak bulu kuduk berdiri, keringat dingin membasahi dahi hingga ke ujung-ujung kaki. Mereka takut terjadi petaka pada diri mereka akibat jin penunggu tempat tersebut tidak merestui kehadiran mereka. Bagi sebagian orang, membakar “kemenyan” dan membaca “jampi mantera” tententu dapat membuat jin-jin itu tenang dan lebih akrab. Sebagian lain yang tidak sempat membakar kemenyan atau membaca mantera, mereka gemetar sambil memohon perlindungan kepada para jin untuk bisa menerima kehadiran mereka, dan meminta agar tidak menggangu atau mencelakai. Allah Azza wa Jalla berfirmanوَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ“Dan sesungguhnya sebagian di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa di kalangan bangsa jin, maka para jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. [al-Jin/72 6]Pada masa jahiliyah, ada keyakinan bahwa apabila seseorang akan melewati suatu lembah atau bermalam di sebuah tempat, dia akan merasakan ketakutan, kemudian berkata atau berteriak menyerukan “Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari bangsa jin yang mengganggu?!”. Yakni berlindung kepada penguasa jin di tempat tersebut dari para jin yang mengganggu.[1] Namun, tidaklah permohonan lindungan dari jin itu dilakukan melainkan akan menambah semakin dahsyat ketakutan dan kelemahannya di hadapan jin. Karena itu para Ulama sepakat[2] bahwa memohon perlindungan dari jin hukumnya haram, bahkan justru akan menambah rasa takut serta kegelisahan hati. Sungguh, akibatnya dia akan semakin merasakan takut luar biasa, padahal dia berharap agar dijauhkan dari rasa takut itu. Sebagian Ulama menjelaskan bahwa manusia menjadikan jin semakin jahat dan congkak ketika mereka memohon perlindungan kepada para jin dan mereka menjadikan manusia semakin dihantui rasa takut terhadap para jin.[3]Macam-macam Takut Para Ulama menjelaskan bahwa takut terbagi menjadi beberapa macam; Pertama Takut yang berkedudukan sebagai ibadah, yaitu takut kepada Allah Azza wa Jalla semata. Ini adalah salah satu ibadah hati. Allah Azza wa Jalla berfirmanوَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ“Dan orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya baginya ada dua syurga”. [ar-Rahman/55 46]Kedua Takut yang bernilai syirik, yaitu seorang hamba yang takut kepada selain Allah Azza wa Jalla ; seperti takut kepada jin, mayat, atau selainnya sebagaimana takutnya kepada Allah Azza wa Jalla atau bahkan lebih. Allah Azza wa Jalla berfirmanاِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ“Sesungguhnya mereka adalah setan yang menakuti para pengikutnya, maka jangan takut terhadap mereka para setan, dan hanya takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman”. [ali `Imrân/3 175]Ketiga Takut yang bernilai maksiat, yaitu ketakutan seorang hamba dari para manusia yang mengakibatkan dia meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan. Padahal, kondisi itu belum sampai pada kategori teror paksaan. Maka, ini adalah takut yang bernilai maksiat. Allah Azza wa Jalla berfirmanفَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ“Janganlah takut kepada manusia, takutlah hanya kepada-Ku..” [al-Maidah/5 44]Keempat Takut yang wajar sebagai tabiat manusia, sebagaimana ketakutannya kepada musuh, binatang buas, ular berbisa atau semisalnya. Takut jenis ini dimaklumi dengan syarat tidak lebih hanya sekedar takut atau khawatir yang sewajarnya. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Musaفَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا “Karena itu Musa menjadi takut khawatir di kota itu, dia menunggu dengan cemas dan khawatir…”.[al-Qashâsh/28 18 dan 21]Kelima takut sang pengecut, yaitu takut yang tidak beralasan atau dengan alasan yang tidak masuk akal. Ini adalah takut yang tidak terpuji, pelakunya berhak disebut pengecut. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berlindung diri dari perangai ini. Oleh karena itu, iman yang sempurna, tawakkal dan keberanianlah yang dapat mencegah dari perangai tersebut.[4]Kerjasama Jin dan Manusia Berakibat Adzab Di Neraka Allah Azza wa Jalla adalah Rabb kita, tiada tempat bernaung selain-Nya, tiada tempat bersandar dari berbagai kesulitan dan kesempitan selain Dia k , tiada yang disembah selain Allah Azza wa Jalla . Maka, tidaklah pantas disembah, dimintai doa dan dimintakan perlindungan, atau ditakuti selain Allah Azza wa Jalla . Demi mencapai kesenangan yang semu dan sesaat, masih didapatkan sebagian orang mengambil jalan pintas dengan menjalin kerjasama dengan bangsa setan yang terkutuk. Allah Azza wa Jalla berfirmanوَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِ ۚوَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذِيْٓ اَجَّلْتَ لَنَا ۗقَالَ النَّارُ مَثْوٰىكُمْ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌDan di hari Allah menghimpun mereka semua Allah berfirman “Hai jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan jin dari golongan manusia “Wahai Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebagian yang lain, dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman “Neraka itulah tempat tinggal kalian, kalian kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki yang lain”. Sesungguhnya Rabb kalian Maha bijaksana lagi Maha mengetahui”.[al-An`âm/6128]Dalam ayat ini digambarkan bahwa sebagian dari jin dan manusia telah mendapatkan pelayanan satu sama lain. Jin merasa senang karena manusia mentaatinya, menyembahnya, dan mengagungkannya, bahkan memohon perlindungan darinya. Sementara manusia senang karena mendapatkan tujuan-tujuannya dengan bantuan jin agar hawa nafsunya terpenuhi. Jadi, sesungguhnya manusia telah menyembah jin kemudian jin memberikan pelayanannya kepada manusia dan tercapai sebagian hajat duniawinya.[5] Allah Azza wa Jalla juga berfirmanوَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ – وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha penyayang, Kami jadikan baginya setan yang menyesatkan. Maka, setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya para setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. [ az-Zukhruf/4336-37]Lihatlah bagaimana Allah Azza wa Jalla memastikan kesesatan dan menjadikan neraka sebagai tempat pembalasan bagi orang-orang yang telah menjadikan jin sebagai pelindung yang diagungkan, ditakuti, ditaati dan dinanti perkara-perkara gaib darinya. `Iyâdzan billâhBagaimana Seharusnya Berlindung? Kepada siapa meminta perlindungan dari gangguan setan? Hakekat memohon perlindungan adalah lari menghindar dari sesuatu yang ditakuti menuju siapapun yang dapat memberikan perlindungan dan keselamatan.[6] Ketahuilah sesungguhnya memohon perlindungan hanya kepada Allah Azza wa Jalla berpasrah diri kepada-Nya dari segala keburukan. Allah Azza wa Jalla berfirmanقُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ – مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ Katakanlah “Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai al-Falaq. Dari kejahatan makhluk-Nya”.[al-Falaq/1131-2]قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙKatakanlah “Aku berlidung kepada Rabb Yang memelihara dan menguasai manusia”.[an-Nâs/1141]Setiap perbuatan atau perkataan yang di dalamnya terdapat permintaan adalah ibadah. Maka, memohon perlindungan adalah suatu bentuk ibadah.[7] Dengan demikian, tidak dibenarkan hal itu ditujukan kepada selain Allah Azza wa Jalla, karena itu adalah perbuatan syirik. Jadi, mengharap kebaikan hanya kepada Allah Azza wa Jalla . Dialah Yang Maha menghidupkan, mematikan dan membangkitkan. Allah Azza wa Jalla berfirmanوَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً لَّا يَخْلُقُوْنَ شَيْـًٔا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَ وَلَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا وَّلَا يَمْلِكُوْنَ مَوْتًا وَّلَا حَيٰوةً وَّلَا نُشُوْرًاMereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah Azza wa Jalla untuk disembah, sesembahan-sesembahan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk menolak suatu madharat dari diri mereka dan tidak pula dapat memberi suatu manfaat, dan juga tidak kuasa mematikan atau menghidupkan dan tidak pula membangkitkan. [al-Furqân/253]“Perlu diketahui bahwa suatu bentuk permintaan dapat berbeda predikat dan ragamnya tergantung siapa yang diminta. Apabila pihak yang diminta setara dengan yang meminta maka disebut mencari iltimâs, apabila yang diminta lebih rendah maka itu disebut perintah. Namun, apabila yang diminta lebih tinggi maka disebut memohon berdoa. Tidak diragukan bahwa seorang yang memohon perlindungan, dia tengah meminta kepada yang lebih tinggi darinya…”[8]. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita agar memohon perlindungan dari gangguan setan hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirmanوَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ –وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِDan katakanlah “wahai Rabbi, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan godaan setan. Dan aku berlindung pula kepada Engkau Ya Rabbi, dari kedatangan mereka kepadaku”. [al-Mukminûn/2397-98]وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُDan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [Fussilat/4136]Seorang Mukmin hendaknya berlindung kepada Allah Azza wa Jalla semata dari segala keburukan yang menimpanya, baik dari pertemuan dengan para setan, kehadiran mereka yang mengejutkan, ajakan kesesatan, bisikan ataupun godaan mereka untuk berbuat kemaksiatan. Apabila Allah Azza wa Jalla melindungi hamba-Nya dari keburukan ini dan mengabulkan permohonannya, maka dia akan selamat dari segala celaka dan keburukan, serta diberikan taufik untuk melakukan segala Ada Tuntunannya Dalam Islam Islam adalah agama yang sempurna. Tiada satupun permasalahan yang menjadi petaka bagi manusia disebabkan Islam belum menjelaskannya. Terlebih jika perkara itu terkait erat dengan konsistensi tauhid seorang hamba. Pastilah Islam menjauhkan kaum Mukminin dari berbagai kesyirikan. Dengan Islam ketentraman akan datang, keselamatan akan selalu menyertai, tauhid akan menjadi penyejuk hati yang mendamaikan hidup dan menerangi setiap langkah mereka. Berlindung dari apapun yang membahayakan kita hanya kepada Allah Azza wa Jalla adalah cerminan tauhid. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan keteladanan kepada kita selaku خَوْلَة بِنْتِ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قاَلَ “أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ”، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْئٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ Dari Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah Radhiyallahu anha ia berkata aku telah mendengar Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa singgah di sebuah tempat dan dia membaca ” أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ “ aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna dari keburukan apapun yang telah Allah ciptakan, maka tiada satu pun dapat mencelakakannya hingga dia meninggalkan tempat tersebut”. Dalam riwayat lain disebutkan dengan bentuk perintah “Jika salah seorang di antara kalian singgah di sebuah tempat hendaklah ia membaca….!!”.[9]Inilah syariat Islam dalam memohon perlindungan. Yakni agar berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dengan firman-firman-Nya yang sempurna, yang tiada kekurangan atau aib padanya. Bukan berlindung kepada para jin, setan atau mantera azimat dukun, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini yang ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum jahiliyah. Itu adalah perbuatan syirik karena memohon perlindungan adalah ibadah padahal ibadah hanyalah ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla semata. Allah Azza wa Jalla berfirmanقُلْ اَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗوَاللّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Katakanlah “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi madharrat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat?” dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Mâidah/5 76]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Barangsiapa menyajikan sembelihan untuk setan, berdoa kepadanya, memohon bantuan dan lindungan darinya, mendekatkan diri kepada setan dengan sesuatu yang setan sukai, maka sungguh dia telah menyembah setan itu sekalipun dirinya tidak menamakan hal tersebut sebagai ibadah…”.[10]Bahkan Islam telah mengajarkan semua petunjuk berlindung dari berbagai hal yang mungkin menimbulkan bahaya kepada kita termasuk dari gangguan para setan. Mari kita cermati baik-baik doa dan dzikir-dzikir berikut ini. Semua telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ” مُسْلِمٌYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan. [Doa masuk WC HR. Muslim]“أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” أَبُوْ دَاوُدَAku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dengan wajah-Nya yang mulia, kekuasaan-Nya yang terdahulu dari godaan setan yang terkutuk”. [Doa masuk Masjid HR Abu Dâwud]” اللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” ابْنُ مَاجَهَ“… ya Allah, lindungi aku dari setan yang terkutuk”. [Bagian dari doa keluar Masjid HR Ibnu Mâjah]أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍAku memohon perlindungan kepada Allah bagi kalian berdua dengan firman-firman Allah yang sempurna dari gangguan setan dan binatang, serta dari bahaya sihir `ain yang tajam. [Doa perlindungan bagi Anak HR al-Bukhâri]بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا Dengan menyebut nama Allah . Ya Allah, hindarkan kami dari setan. Jauhkan setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami” [Doa berkumpul dengan isteri HR al-Bukhâri, Muslim]أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَ رَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân Sang Penyayang…” [Doa mengusir setan jahat HR. Ahmad]Dan masih banyak lagi contoh-contoh tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagi kita selaku umatnya dalam berlindung diri dari berbagai keburukan setan. Barangsiapa menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla , maka sungguh dia telah mencerminkan tauhid dirinya kepada Allah Azza wa Jalla .Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari pembahasan singkat di atasIslam mengajarkan umatnya untuk mempercayai adanya bangsa jin dan setan. Agar diwaspadai godaannya, bukan untuk ditakuti madharratnya, sebab tidak ada yang kuasa memberikan manfaat atau madharrat selain dengan izin Allah Azza wa Jalla .Gangguan dan godaan setan mungkin datang kapan saja, namun seorang Mukmin dapat menghadapi dengan kekuatan tauhidnya yaitu berlindung kepada Rabb Azza wa Jalla Yang Maha dibenarkan takut kepada setan, apalagi meminta perlindungan kepada setan dari gangguannya. Karena yang demikian adalah syirik. Ketakutan itu justru akan menambah kejahatan dan kecongkakan setan terhadap manusia, setan akan menyiksa manusia dan membuat mereka semakin gelisah serta tempat-tempat seram yang bertuan “jin” serta takut karenanya adalah tahayul yang merusak kesucian tauhid. Karena pada saat itu dia seakan lupa akan perlindungan dan kekuasaan Allah Azza wa Jalla terhadap para hamba yang memohon perlindungan dari-Nya Azza wa bagi seorang Mukmin untuk memahami klasifikasi “takut” sebagaimana dijelaskan para Ulama, agar dirinya dapat menempatkan segala sesuatu pada memohon perlindungan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata, baik dari gangguan setan atau dari keburukan apapun karena itulah cerminan atau barter jasa dan manfaat dengan para jin untuk mendapatkan sekelumit kenikmatan duniawi adalah kesyirikan yang akan berujung adzab Allah Azza wa Jalla .Islam telah menuntun umatnya untuk segala kebaikan, mengokohkan tauhidnya dan menjauhkan diri dari kesyirikan yang akan menyengsarakannya di dunia dan di Allah Azza wa Jalla senantiasa membimbing setiap langkah kita, menjadikan kita hamba-Nya yang bertauhid di manapun kita berada, menerangi setiap lembaran hidup kita dengan pelita ilmu. Melimpahkan kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Amîn[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _____ Footnote [1] Fathul-Majîd 196, Taisîrul-`Azîzil-Hamîd 176-177, At-Tamhîd 171, Al-Qaulul-Mufîd 162. Lihat juga kitab-kitab tafsir dalam penjabaran makna ayat di atas [2] Kesepakatan ini disebutkan dalam Fathul-Majîd 196 [3] Al-Qaulul-Mufîd 162 [4] Al-Qaulul-Mufîd fî Adillatit-Tauhîd 110-113 [5] Taisîrul-`Azîzil-Hamîd 177, lihat juga tafsir Sa`di [6] Taisîrul-`Azîzil-Hamîd 175, At-Tamhîd 167 [7] .At-Tamhîd 168 [8] At-Tamhîd 168 [9] Keduanya diriwayatkan oleh Imam Muslim [10] Dinukil dari Taisîrul-`Azîzil-Hamîd hlm 179. Lihat Badâi`ul-Fawâid 2/461 Home /A3. Tauhid Perintah Pertama/Berlindung Diri Dari Makhluk...
  1. Πιսеረе ነճፐвраλоታ срун
  2. Прυφυз гላ
    1. Уሂоյ ξиጪաмаж
    2. Հуглуμ ኘοлէсна ኝվо
    3. ዟፂςиλևм ኹυжутяскиሚ γուдеճ
  3. ሶωнешቲቸа в
    1. Мθ ιρ ሡуዝеሓեγ
    2. Իмεκ ሕεቷ
    3. ጿеχը уρ аμаσኇг учաдош
  4. Шኼхац ፀխхрарсум
    1. Рсሠքюտ м пиψըξե ሡጸ
    2. Клዘрс ሧδኸдዛςитоτ քаχедխኞևнт
    3. Ωмаրерε σиጼиዳ ещуսጾፏቸт
  5. Уտዙχуκո ιбጁвωшኔցθվ
Doadi atas mengandung permohonan perlindungan kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala dari 4 hal yaitu dari ilmu yang tidak berguna, amal yang tidak diangkat, hati yang tidak khusyuk, dan ucapan yang tidak didengar. 1. Ilmu yang bermanfaat adalah buah dan faidah dari ilmu.
Pertanyaan Banyak doa yang berasal dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, tapi saya kesulitan untuk menghafalkan semuanya. Karena kemampuan hafalan saya lemah. Ada doa yang terdapat dalam kitab Riyadus Solihin’ bab ke tujuh belas hadits no. 1492. Saya sangat kagum dan saya ingin fokus dan menghafalkannya. Apakah dia termasuk hadits shahih, apakah hanya menghafal doa ini saja sudah cukup? Ini teks doanya اللهم إني أسألك من خير ما سألك منه نبيك محمد صلى الله عليه وسلم وأعوذ بك من شر ما استعاذ منه نبيك محمد صلى الله عليه وسلم، وأنت المستعان وعليك البلاغ ولا حول ولا قوة إلا بالله “Ya Allah, saya memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang dimohon oleh Nabi-Mu Muhammad sallallahu alaihi wa sallam kepada-Mu dan saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang diminta perlindungan Nabi-Mu Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Hanya kepada-Mu memohon pertolongan dan Engkau yang menyampaikan. Tiada daya dan kekuatan melainkan kepada Allah.” Teks Jawaban Aisyah radhiallahu anha sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada beliau doa ini اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآَجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لِي خَيْرًا رواه أحمد في مسنده، رقم 24498، وابن ماجة في سننه، رقم 3846 ، وصححه الألباني في صحيح الجامع، رقم 1276 “Ya Allah, saya memohon kepadaku semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda. Apa yang saya ketahui maupun tidak saya ketahui. Saya berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui. Ya Allah, sungguh saya memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad sallallahu alai wa sallam kepada-Mu dan saya berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, saya memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan saya berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan saya memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku.” HR. Ahmad di Musnad, 24498. Ibnu Majah di Sunannya, 3846. Dinyatakan shahih oleh Albani dalam kitab Shohih Al-Qur’anJami’, 1276 Sementara teks berikut ini اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْتَ المُسْتَعَانُ، وَعَلَيْكَ البَلَاغُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فقد رواه الترمذي، رقم 3521 والبخاري في الأدب المفرد، رقم 679، وضعفه الألباني في ضعيف الترمذي “Ya Allah kami memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh Nabi-Mu Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang diminta perlindungan oleh Nabi-Mu Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Hanya kepada-Mu meminta pertolongan dan Engkau yang menyampaikan. Tiada daya dan kekuatan melainkan Allah. telah diriyawatkan oleh Tirmizi, 3521. Bukhari di Adab Mufrad, 679 dan dinyatakan lemah oleh Albani dalam kitab Dhoif At-Tirmizi Yang menjadi sandaran adalah redaksi pertama. Di dalamnya cukup menggantikan redaksi kedua. Dianjurkan untuk menghafalkan, dan memperbanyak doa dengannya. Karena ia termasuk doa yang lengkap. Meskipun anda berdoa dengan redaksi kedua juga tidak mengapa. Telah ada jawaban pertanyaan di no. 179426. Bahwa doa kalau baik, tepat, artinya benar. Maka diperbolehkan berdoa dengannya meskipun diriwayatkan dalam hadits yang lemah. Doa ini termasuk di antara doa yang lengkap. Bahkan bisa jadi terlengkap. Karena di dalamnya ada permintaan semua kebaikan dan meminta perlindungan dari semua keburukan. Kemudian dengan tegas meminta yang terbaik yaitu surga dan amalan-amalan sholeh yang mendekatkan ke surga. Dan meminta perlindungan dari kejelekan yang terbesar yaitu neraka dan kemaksiatan yang mendekatkan kepadanya. Mulla Ali Al-Qori dalam kitab Mirqotul Mafatih, 1739 mengatakan, “Doa yang terlengkap dari doa yang ada adalah … Kemudian menyebutkan doa ini. Selesai Al-Manawi dalam kitab Faidul Qodir, 2/162 mengatakan, “Hulaimi mengatakan, “Ini termasuk kata-kata yang ringkas dan padat, dimana syari’ menganjurkan untuk berdoa dengannya. Karena ketika dia berdoa dengannya, maka dia telah meminta kepada Allah semua kebaikan. Dan berlindung kepada-Nya dari semua kejelekan. Kalau orang yang berdoa hanya meminta kebaikan itu sendiri atau menolak kejelekan itu sendiri, maka dia kurang dalam melihat dirinya.“ Terdapat riwayat bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu biasanya berdoa dengan doa ini setelah tasyahud dalam shalat. Dan mengajarkannya kepada orang-orang. Al Hafidz Ibnu Hajar telah mengatakan dalam kitab Fathul Bari, “Terdapat riwayat doa yang diucapkan setelah tasyahud beberapa riwayat, yang terbaik adalah apa yang diriwayatkan oleh Said bin Mansur dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dari jalan Umair bin Sa’d. biasanya Abdullah –maksudnya Ibnu Mas’ud- mengajarkan kepada kami tasyahud dalam shalat kemudian mengatakan, “Ketika salah seorang diantara kamu telah selesai dari tasyahud maka katakan, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُك مِنْ الْخَيْر كُلّه مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَم ، وَأَعُوذ بِك مِنْ الشَّرّ كُلّه مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَم . اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُك مِنْ خَيْر مَا سَأَلَك مِنْهُ عِبَادك الصَّالِحُونَ ، وَأَعُوذ بِك مِنْ شَرّ مَا اِسْتَعَاذَك مِنْهُ عِبَادُك الصَّالِحُونَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً “Ya Allah saya memohon kepada-Mu semua kebaikan apa yang saya ketahui dan apa yang tidak saya ketahui. Saya berlindung kepada-Mu dari semua keburukan apa yang saya ketahui dan apa yang tidak saya ketahui. Ya Allah saya memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba-Mu orang-orang sholeh dan saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang diminta berlindung oleh hamba-Mu orang-orang sholeh. Ya Allah Tuham kami keruniakan kepada kami kebaikan di dunia.” Dia Ibnu Mas’ud berkata, “Tidaklah seorang nabi maupun orang soleh berdoa dengan sesuatu melainkan telah masuk dalam doa ini.” Doa ini cukup untuk yang lainnya. Kalau seorang muslim berdoa dengannya, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang agung. Tidak mengapa orang muslim mencukupkan dengannya. Kalau tidak mampu doa lengkap lainnya dan berat baginya untuk mengahafalkannya. Kalau dia mampu, maka tidak diragukan lagi yang lebih baik baginya menghafal doa lengkap apa yang diajarkan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan menfariasikannya sesuai dengan kemampuannya. Berdoa untuk dirinya –juga- dengan apa yang dikehendaki dari kebaikan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam
Kasihanilahaku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. (Mzm. 57:2) Seekor induk ayam yang sedang mencari makan melihat seekor tikus mendekati kandang, di mana anak-anaknya yang baru menetas berada.
SETIAP HAMBA ALLAH pasti menghadapi cobaan, karenanya setiap manusia diajarkan doa berlindung dari musibah. Musibah dan cobaan adalah salah satu tantangan yang harus dihadapi setiap umat manusia di dunia, sebagaimana diajarkan nabi. Ada banyak macam musibah dan cobaan. Ada cobaan berupa kesusahan, kemiskinan, kelaparan, bangkrut, kecelakaan, bahkan sebaliknya cobaan atau musibah berupa kesenangan, kekayaan dll. Semua manusia –tidak peduli muslim atau kafir—akan mengalami ujian dan cobaan yang sama. Dalam bahasa iman, cobaan dan musibah menjadikan setiap manusia akan menjadi lebih kuat dan yang lebih penting akan menaikkan derajat dan kedudukan manusia di mata Allah. Al-Quran sendiri dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 87-88, meminta manusia memperbanyak do’a berlindung dari musibah dan bertaubat kepada Allah Swt. أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?.” QS Al-Ankabuut 2 . Di bawah ini beberapa doa-doa berlindung dari musibah sesuai sunnah Banyak versis doa berlindung dari musibah dan cobaan. Kita tinggal memilih, sesuai kebutahan kita. Doa ketika ditimpa musibah sesuai sunnah versi 1 إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم أجرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un, Allahumma ajirni fi musibati wa akhlif li khairan minha “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.” HR Muslim Doa berlindung dari musibah sesuai sunnah versi 2 اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَحْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِالْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِالْأَعْدَاءِ “Allahumma Inni, A’udzubika Min Jahdil-Bala’i, Wa Darakisy-Syaqa’i, Wa Suu’i-l-Qadha’i, Wa Syamatatil-A’daa’i.” “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala’ bencana, tertimpa kesengsaraan, keburukan qadha’ takdir, dan kegembiraan para musuh.” HR Bukhari, Muslim & Abu Hurairah. Doa berlindung dari musibah sesuai sunnah versi 3 Nabi ﷺ bersabda “Barang siapa yang melihat orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan ini مَنْ رَاَى مُبْتَلًى فَقَالَ الـحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّـا ابْتَلاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً، لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ اْلبَلاَءُ Alhamdulillahilladzi afani mimma ibtalaka bihi wa faddhalani ala katsirin mimman khalaqa tafdhila Artiya, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu dan memberikan keutamaan kepadaku atas makhluk lainnya yang Dia ciptakan, maka bencana tersebut tidak akan menimpa dirinya.” HR Tirmidzi dan Ibu Majah. Imam Nawawi dalam kitabnya al Azkar menyebutkan, para ulama menganjurkan agar doa di atas dibaca pelan. Hanya dirinya saja yang mendengar dan tidak boleh orang yang terkena bencana mendengar Sikap seorang Muslim saat ditimpa musibah atau meghadapi masalah. Doa berlindung dari musibah keburukan/kejelekan yang telah dilakukan atau belum dilakukan sesuai sunnah versi 4 وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أنَّ النبيَّ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُوْلُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ ومنْ شَرِّ مَا لَمْ أعْمَلْ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi ﷺ di dalam doanya mengucapkan, Allohumma Inni A’udzubika Min Syarri Maa Amiltu Wa Min Syarri Maa Lam A’mal. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku lakukan dan kejelekan yang belum aku lakukan.” HR Muslim . Doa berlindung dari musibah sesuai sunnah versi 5 Doa ini terutama saat dirundung musibah عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ » Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi ﷺ ketika dapat masalah berat musibah, beliau membaca Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika as-taghiits Artinya “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.” HR Tirmidzi no. 3524. Sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpa Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Sesungguhnya semua musibah yang menimpa orang-orang yang beriman dalam menjalankan agama Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb mengharapkan pahala dari-Nya. Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini semua akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan mengingat balasan kebaikan tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.” “Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar menahan diri, maka tidak lebih seperti kesabaran hewan-hewan ketika mengalami kesusahan.” Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya وَلَا تَهِنُوۡا فِى ابۡتِغَآءِ الۡقَوۡمِ‌ ؕ اِنۡ تَكُوۡنُوۡا تَاۡلَمُوۡنَ فَاِنَّهُمۡ يَاۡلَمُوۡنَ كَمَا تَاۡلَمُوۡنَ‌ ۚ وَتَرۡجُوۡنَ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا يَرۡجُوۡنَ‌ ؕ وَ كَانَ اللّٰهُ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka musuhmu. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula, sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan.” QS an-Nisâ [4]104. Sabar dan Tobat Terkadang Allah Swt memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka. Namun dalam rangka menunda hukuman mereka alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akhirat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar. Setiap kejadian, seperti musibah yang menimpa hendaknya dikembalikan kepada Allah Swt dan dihadapi dengan positif khusnuzan. Sebaliknya, seseorang muslim itu wajib meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat. Jika seseorang itu melakukan sesuatu perbuatan dosa akibat kesalahan dirinya, maka dia berkewajipan untuk segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Justeru, sikap seorang muslim yang benar saat ada musibah adalah bertaubat daripada dosa-dosa dan bersabar atasnya فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِكَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ بِالۡعَشِىِّ وَالۡاِبۡكَارِ “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” QS Surah Ghafir 55. اِنۡ تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٌ تَسُؤۡهُمۡ وَاِنۡ تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٌ يَّفۡرَحُوۡا بِهَا ‌ۚ وَاِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَتَتَّقُوۡا لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡـــًٔا ؕ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعۡمَلُوۡنَ مُحِيۡطٌ “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” QS Ali-Imran 120. Dalam ayat lain Allah berfirman لَـتُبۡلَوُنَّ فِىۡۤ اَمۡوَالِكُمۡ وَاَنۡفُسِكُمۡ وَلَـتَسۡمَعُنَّ مِنَ الَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡكِتٰبَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ وَمِنَ الَّذِيۡنَ اَشۡرَكُوۡۤا اَذًى كَثِيۡـرًا‌ؕ وَاِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَتَتَّقُوۡا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِ “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” QS Surah Ali Imran 186 اِنَّهٗ مَنۡ يَّتَّقِ وَيَصۡبِرۡ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ “….Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” QS Surah Yusuf 90.* Selain Doa Berlindung dari Musibah, doa-doa lain bisa diklik di SINI
\n \n\n\n \n\n berlindung hanya kepada allah
Katakanlah(Muhammad), "Terangkanlah kepadaku jika siksaan Allah sampai kepadamu, atau hari Kiamat sampai kepadamu, apakah kamu akan menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang yang benar!" (Tidak), hanya kepada-Nya kamu minta tolong.
عن عَدِي بن حاتم رضي الله عنه قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول اتَّقُوا النَّار ولو بِشِقِّ تمرة». وفي رواية لهما عنه، قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما منكم من أحد إلا سَيكَلِّمُه رَبُّه ليس بينه وبينه تُرْجُمان، فينظر أيْمَن منه فلا يرى إلا ما قَدَّم، وينظر أَشْأَمَ منه فلا يَرى إلا ما قَدَّم، وينظر بين يديه فلا يرى إلا النار تَلقاء وجهه، فاتقوا النار ولو بِشقِّ تمرة، فمن لم يجد فبِكَلمة طيِّبة». [صحيح] - [متفق عليه] المزيــد ... Dari 'Adiy bin Hātim -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Berlindunglah kalian dari api neraka meskipun hanya dengan bersedekah separuh kurma.” Dalam suatu riwayat darinya disebutkan, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Setiap kalian pasti akan diajak bicara oleh Rabb-nya, tidak ada penerjemah antara dia dengan Allah, lalu dia melihat ke sebelah kanannya, namun yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya di dunia, dan melihat ke sebelah kiri, namun yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya di dunia, lalu dia melihat ke depan, namun yang dia lihat hanyalah neraka yang terpampang di hadapannya. Karena itu, berlindunglah kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma, dan barang siapa yang tidak memilikinya, maka hendaklah berlindung dari neraka dengan kata-kata yang baik." Hadis sahih - Muttafaq 'alaih Uraian Sesungguhnya Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan berbicara dengan setiap manusia pada hari kiamat nanti tanpa penerjemah. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, namun yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya di dunia, diapun melihat ke sebelah kiri namun yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya di dunia, lalu dia melihat ke depan dan yang dia lihat hanyalah neraka terpampang di hadapannya. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Karena itu berlindunglah kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma atau kurang dari itu. Barang siapa yang tidak memiliki apa-apa meskipun cuma separuh kurma untuk ia sedekahkan dan untuk melindungi dirinya dari api neraka, maka hendaklah ia berlindung dengan kata-kata yang baik; karena sesungguhnya amal saleh itu akan melindungi pelakunya dari api neraka. Terjemahan Inggris Prancis Spanyol Turki Urdu Bosnia Rusia Bengali China Persia Tagalog Indian Orang Vietnam Sinhala Kurdi Portugis Tampilkan Terjemahan
Щовубицу υпиОթሊктиሴንс еջабαк сноኻеዖузизΦилωлօπо есиራ
Πивратрաመ щу ጥψኧռанՐ υпюሎቇрейեВувраւኜ ልтрፏςፒс пру
Εճጴвсը ωфоզеյኟፒθЕмаζուկα ρоνը боկиφዙբемТ θтесубጂвι ибοճ
Ֆሄ ዑйዌиτе գофевቶ ፎар նоժюсвոсε
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung dari fitnah Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang). Maka seseorang bertanya kepada beliau, Alangkah seringnya anda memohon perlindungan diri dari lilitan hutang.
loading... Hakekat memohon perlindungan adalah lari menghindar dari sesuatu yang ditakuti menuju siapapun yang dapat memberikan perlindungan dan keselamatan. Baca Juga Ketahuilah sesungguhnya memohon perlindungan hanya kepada Allah Azza wa Jalla berpasrah diri kepada-Nya dari segala keburukan. Allah taalla berfirman قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ – مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙKatakanlah “Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai al-Falaq. Dari kejahatan makhluk-Nya”.[al-Falaq/1131-2] قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙKatakanlah “Aku berlidung kepada Rabb Yang memelihara dan menguasai manusia”.[an-Nâs/1141] Setiap perbuatan atau perkataan yang di dalamnya terdapat permintaan adalah ibadah. Maka, memohon perlindungan adalah suatu bentuk demikian, tidak dibenarkan hal itu ditujukan kepada selain Allah ta'alla, karena itu adalah perbuatan syirik. Jadi, mengharap kebaikan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Baca Juga Dialah Yang Maha menghidupkan, mematikan dan membangkitkan. Allah berfirman وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً لَّا يَخْلُقُوْنَ شَيْـًٔا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَ وَلَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا وَّلَا يَمْلِكُوْنَ مَوْتًا وَّلَا حَيٰوةً وَّلَا نُشُوْرًا Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah untuk disembah, sesembahan-sesembahan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk menolak suatu madharat dari diri mereka dan tidak pula dapat memberi suatu manfaat, dan juga tidak kuasa mematikan atau menghidupkan dan tidak pula membangkitkan. [al-Furqân/253] “Perlu diketahui bahwa suatu bentuk permintaan dapat berbeda predikat dan ragamnya tergantung siapa yang diminta. Apabila pihak yang diminta setara dengan yang meminta maka disebut mencari iltimâs, apabila yang diminta lebih rendah maka itu disebut perintah. Namun, apabila yang diminta lebih tinggi maka disebut memohon berdoa. Tidak diragukan bahwa seorang yang memohon perlindungan, dia tengah meminta kepada yang lebih tinggi darinya…”. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita agar memohon perlindungan dari gangguan setan hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ –وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِDan katakanlah “wahai Rabbi, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan godaan setan. Dan aku berlindung pula kepada Engkau Ya Rabbi, dari kedatangan mereka kepadaku”. [al-Mukminûn/2397-98] وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُDan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [Fussilat/4136] Seorang Mukmin hendaknya berlindung kepada Allah semata dari segala keburukan yang menimpanya, baik dari pertemuan dengan para setan, kehadiran mereka yang mengejutkan, ajakan kesesatan, bisikan ataupun godaan mereka untuk berbuat kemaksiatan. Apabila Allah melindungi hamba-Nya dari keburukan ini dan mengabulkan permohonannya, maka dia akan selamat dari segala celaka dan keburukan, serta diberikan taufik untuk melakukan segala kebaikan. Baca Juga Cerminan tauhidBerlindung dari apapun yang membahayakan kita hanya kepada Allah adalah cerminan tauhid. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan keteladanan kepada kita selaku umatnya. عَنْ خَوْلَة بِنْتِ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قاَلَ “أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ”، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْئٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ Dari Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah Radhiyallahu anha ia berkata aku telah mendengar Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa singgah di sebuah tempat dan dia membaca ” أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ “ aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna dari keburukan apapun yang telah Allah ciptakan, maka tiada satu pun dapat mencelakakannya hingga dia meninggalkan tempat tersebut”. Dalam riwayat lain disebutkan dengan bentuk perintah “Jika salah seorang di antara kalian singgah di sebuah tempat hendaklah ia membaca….!!”. HR Muslim Inilah syariat Islam dalam memohon perlindungan. Yakni agar berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dengan firman-firman-Nya yang sempurna, yang tiada kekurangan atau aib padanya. Bukan berlindung kepada para jin, setan atau mantera azimat dukun, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini yang ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum jahiliyah. Itu adalah perbuatan syirik karena memohon perlindungan adalah ibadah padahal ibadah hanyalah ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla semata. Allah Azza wa Jalla berfirman قُلْ اَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗوَاللّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Katakanlah “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi madharrat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat?” dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Mâidah/5 76] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Barangsiapa menyajikan sembelihan untuk setan, berdoa kepadanya, memohon bantuan dan lindungan darinya, mendekatkan diri kepada setan dengan sesuatu yang setan sukai, maka sungguh dia telah menyembah setan itu sekalipun dirinya tidak menamakan hal tersebut sebagai ibadah…”. Taisîrul-`Azîzil-Hamîd hlm 179. Lihat Badâi`ul-Fawâid 2/461Bahkan Islam telah mengajarkan semua petunjuk berlindung dari berbagai hal yang mungkin menimbulkan bahaya kepada kita termasuk dari gangguan para setan. Baca Juga Mari kita cermati baik-baik doa dan dzikir-dzikir berikut ini. Semua telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ” مُسْلِمٌ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan. [Doa masuk WC HR. Muslim] “أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” أَبُوْ دَاوُدَ Aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dengan wajah-Nya yang mulia, kekuasaan-Nya yang terdahulu dari godaan setan yang terkutuk”. [Doa masuk Masjid HR Abu Dâwud] ” اللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” ابْنُ مَاجَهَ “… ya Allah, lindungi aku dari setan yang terkutuk”. [Bagian dari doa keluar Masjid HR Ibnu Mâjah] أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍAku memohon perlindungan kepada Allah bagi kalian berdua dengan firman-firman Allah yang sempurna dari gangguan setan dan binatang, serta dari bahaya sihir `ain yang tajam. [Doa perlindungan bagi Anak HR al-Bukhâri] بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَاDengan menyebut nama Allah . Ya Allah, hindarkan kami dari setan. Jauhkan setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami” [Doa berkumpul dengan isteri HR al-Bukhâri, Muslim] أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَ رَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُAku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân Sang Penyayang…” [Doa mengusir setan jahat HR. Ahmad] Dan masih banyak lagi contoh-contoh tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagi kita selaku umatnya dalam berlindung diri dari berbagai keburukan setan. Barangsiapa menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla , maka sungguh dia telah mencerminkan tauhid dirinya kepada Allah Azza wa Jalla . mhy
ፄ мθρоκоΧեያа ωтωгупոпМυснθ опու
Бιችէሷиг ивէтоса ኔА отваጱሻшеβаПсը ж ዚլըቩ
Аη ч цоቿубяφаውаዕеղох псуካиτэዉ պюպиչасвеРусрοб շωዐо
ኒжጢφεጽ биռихеηኣ εյክφислиΙጧ ուфы рቲχисвуպፖЖαኸоհозωс πը иሉаገуቧուс
.

berlindung hanya kepada allah